Saya bangga suka mangga


Hasan askari: Saya bangga suka mangga

Saya bangga suka mangga

Hari ini saya pergi ke pasar. Kemudian membeli anggur. Lalu saya menaruh buah berbentuk bulat itu ke dalam tas saya. Saya sangat senang sekali bisa membeli anggur. Sebab sudah bertahun-tahun lamanya saya tidak memakan anggur.

Selain anggur, saya juga menyukai apel, jeruk, pepaya, manggis, kelengkeng, kurma, dan lain sebagainya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Akan tetapi, dari semua buah-buahan yang saya suka, satu-satunya buah yang saya suka ialah mangga manis.

Ya, entah mengapa saya menyukainya. Kemungkinan besar karena manisnya itu unik di lidah saya. Adapun mangga yang berasa kecut, saya tidak menyukainya karena terasa kecut di lidah.

Model mangga yang saya sukai ketika memakannya ialah diiris atau dipotong-potong terlebih dahulu. Tidak langsung dimakan dengan masih menempel pada bijinya.

Saya lebih suka lagi ketika mangga yang sudah terpotong kemudian dicampur dengan gula merah yang sudah diuleg dan ditambah cabe, garam, serta sedikit air. Ketika sudah tercampur semua, termasuk mangganya, maka biasa saya menyebutnya lutis.

Itu untuk makanannya.


Adapun untuk minuman, saya juga suka meminum jus mangga. Dengan catatan mangga yang diolah tidak terlalu manis sekaligus tidak terlalu kecut. Jika demikian, maka lidah saya akan menolaknya mentah-mentah. Rasanya akan menjadi tidak enak.

Namun, sayangnya saat ini saya belum bisa membuat jus mangga. Karena blender yang ada ternyata rusak. Daripada membeli blender baru, mending uangnya saya gunakan untuk membeli mangga yang banyak sekali. Sehingga saya bisa memakan lutis setiap hari. Walaupun minumnya tanpa jus mangga.

Sering kali, ketika saya bosan. Maka saya akan pergi ke warung untuk membeli lutis. Itu jika ada uang. Adapun jika tidak ada uang, maka saya akan melihat gambar mangga yang terpajang di kamar saya. Dengan melihat gambar mangga, maka rasa bosan perlahan-lahan hilang.

Biasanya, bersamaan dengan hilangnya rasa bosan, maka rasa lapar pun tiba. Maka saya akan pergi ke dapur untuk mengambil makanan apapun yang ada di sana, lalu memakannya sambil melihat poster mangga. 

Percaya atau tidak, di rumah saya terpajang banyak sekali atribut mangga. Mulai dari poster, gantungan kunci, karpet, gorden, bahkan di salah satu dinding, terlukis gambar buah mangga.

Mangga sudah melekat dalam diri saya dan mustahil untuk terpisah. Pada akhirnya, ekspresi yang saya luapkan ialah satu, yaitu bangga.

Saya bangga menyukai Mangga

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Saya bangga suka mangga"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel