Thursday, April 9, 2020

Manusia Masa Kini Apakah Ada?

Hasan askari: Manusia Masa Kini Apakah Ada?

Basa-basi

Manusia hidup di masa kini, belajar dari masa lalu, dan hidup untuk masa kini
Jika Sobat sering mendengar kata-kata motivasi, maka sobat pasti pernah mendapatkan motivasi untuk hidup di masa depan. Kita ini punya masa depan yang cemerlang, punya masa depan yang sukses dan lain sebagainya.

Hal yang berkaitan dengan masa depan, memang asik untuk dibicarakan. Akan tetapi,  pada kesempatan ini saya tidak akan membahas lengkap mengenai masa depan yang penuh teka-teki, melainkan masa kini yang saat ini kita tapaki.

Biarpun begitu, pada postingan ini, masa depan akan saya ungkit sedikit demi sedikit sebagai pemanis saja.

Masa depan itu tak pernah ada

Jika kita amat-amati tentang masa depan, sejatinya masa depan itu tidak pernah ada. Sebagai contoh begini.

Sobat saat ini berusia 15 tahun. Kemudian Sobat berpikir bahwa di masa depan sobat, yakni di usia 20 tahun, sobat akan tuntas menguasai dan menghapal KBBI hingga ke akar-akarnya.

Setelah 5 tahun kemudian, Sobat pun berusia 20 tahun dan kebetulan KBBI sudah Sobat kuasai dengan sangat sempurna.
Pertanyaannya ialah, apakah Sobat yang berusia 20 tahun itu hidup di masa depan?

Tidak bukan?

Sobat yang diusia 20 tahun itu ialah masa kininya sobat. Alias bukan masa depan.
Silakan Sobat cari contoh lainnya dan amati dengan teliti, maka Sobat akan menyimpulkan seperti ini,
Masa depan itu ialah masa kini yang belum ada.

Tapi jika Sobat tidak setuju dan tidak mendapatkan kesimpulan seperti itu, ya tidak apa-apa. Itu terserah Sobat.

Masa kini yang terabaikan

Banyak dari manusia cenderung sibuk memikirkan masa depannya. Masa depan gue itu apa, masa depan lo kayak gimana, masa depan keluarga gue mau dibawa kemana?

Itu kata anak-anak gaul masa kini.

Saya tak menyalahkan mereka karena mereka memikirkan masa depan, melainkan menganehkan saja mengenai apa yang mereka pikirkan.

Bagi saya, orang-orang yang selalu  memikirkan masa depan, justru terlihat aneh. Sebab, sebagian besarnya ternyata mengabaikan masa kini yang mereka miliki.

Mereka cenderung memubazirkan masa kini yang seharusnya mereka nikmati. Mereka tidak sadar, bahwa hidup yang mereka miliki ialah nikmat yang besar sekali.

Beberapa dari mereka hidup di keluarga berada, kemudian demi masa depan mereka yang setingkat lebih tinggi, akhirnya mereka tidak memanfaatkan apa yang mereka punya untuk dimaksimalkan di masa kini.

Orang-orang yang belum berada pun sama. Demi masa depan mereka untuk menjadi berada atau lain sebagainya, mereka kemudian memubazirkan masa kini yang mereka punya.

Masa depan membuat sebagian orang mengabaikan masa kini.

***

Apa yang saya sampaikan barusan adalah bentuk abstraknya. Jika Sobat ingin mengamati contoh konkretnya, berikut inilah contohnya. Ini hanya sekedar contoh saja.

Suatu hari saya jalan kaki keliling kampung. Di tengah jalan, saya menemukan ibu-ibu yang sedang mengemis dan membawa anak yang sedang menangis. Kebetulan saya membawa uang 50 ribu saat itu. Uang itu ialah uang satu-satunya yang saya punya.

Saya hidup masih di bawah naungan orang tua. Makan dan minum pasti selalu ada. Umur saya masih muda. Saya pun masih bertenaga. Prinsip hidup saya ialah masa depan yang sukses. Bagi saya, sukses itu ketika saya mendapatkan banyak uang.

Melihat ibu dan anak tersebut, saya berpikir demikian, "Saya ini punya prinsip yaitu punya banyak uang di masa depan. Prinsip ini harus saya pegang baik-baik. Uang 50 ribu ini akan saya celengi sajalah daripada saya berikan ke ibu dan anak tersebut. Lagian, mereka juga pasti punya rezekinya masing-masing."

Lantas saya pun merealisasikan apa yang saya pikirkan. Sehingga lewatnya saya di hadapan ibu dan anak tersebut, kurang lebih sama seperti lewatnya angin.

Cerita tersebut menggambarkan kepada kita bahwa masa depan bisa membuat manusia mengabaikan masa kini. Masa depan membuat kita mengabaikan sekitar.

Kejadian seperti ini, sejatinya sudah sering terjadi di masyarakat dan di kehidupan kita masing-masing. Kita pun terlalu sering egois mementingkan masa depan dan melupakan masa kini.

Manusia masa kini tidak lagi mementingkan masa kini yang sebenarnya.
Manusia masa kini cenderung menuntut masa kini yang belum ada.
Jika tak ada, sengajalah diada-ada.
Jika sudah ada, maka mereka bergerak seperti roda.

Hasan Askari, Lampung 8 April 2020

Manusia masa kini apakah ada?

Manusia masa kini jelaslah ada. Tapi tak sebanyak yang kita kira. Ini karena banyaknya manusia sudah terjebak oleh masa depan yang mereka harapkan. Sehingga mereka mengabaikan saat ini, hari ini, dan detik ini. Mereka lupa bahwa masa kini yang sedang mereka jalani ialah masa depan yang sudah basi.

Sedangkan manusia masa kini, cenderung lebih fokus pada masa kini. Mereka pikir masa depan ialah masa kini yang belum ada dan mungkin saja tidak pernah ada.

Bagi mereka, cukuplah melakukan yang terbaik saat ini, maka masa depan pun akan datang sendiri.

Sebagai penutup

Saya tidak mengajak Sobat semua untuk melupakan masa depan yang Sobat harapkan. Saya hanya ingin kita bisa lebih perhatian pada masa kini yang mulai diabaikan.

Mari lihat sekeliling kita. Itulah masa kini yang kita punya. Dan itulah masa depan kita bertahun-tahun yang lalu.

Disqus Codes
  • Untuk menulis teks tebal , sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks miring, sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks bergaris bawah , sila gunakan
  • Untuk menulis teks bergaris tengah , sila gunakan
  • Untuk menulis kode HTML, silakan pakai atau
    or

    dan gunakan parse tool below to easy get the style.
Show Parser Box

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

Dapatkan Kabar Terbaru Melalui Email