Tuesday, March 10, 2020

Media sosial dan betapa susahnya menjadi diri sendiri


Hasan Askari: Bicara Media Sosial dan Betapa Sulitnya Menjadi Diri Sendiri di Era Digital ini

Basa-basi

HAMPIR seperlima abad, saya hidup di dunia ini. Bernapas dan memastikan masih hidup di pagi hari adalah kegiatan rutin yang biasa saya lakukan. Lagipula siapa coba yang bisa memastikan dirinya akan mati, kecuali orang-orang gila yang rela bunuh diri. Ya! Kematian tak bisa diduga-duga. Nyawa pun selalu siap keluar dari raga. Tak peduli di kala sedih ataupun bangga.

Kali ini saya ingin membahas tentang Media sosial dan betapa sulitnya menjadi diri sendiri, beserta hambatannya yang harus dihadapi atau dihindari. Tak banyak orang mencoba mengenal jati diri. Padahal, mengenal jati diri bisa membuat kita mawas diri.

Era digital memberi tantangan kepada kita untuk beradaptasi. Juga pula untuk mencari solusi. Supaya aksi yang kita buat bukan sekedar ilusi. Melainkan improvisasi pikiran, hati, serta emosi.

Mari kita mulai dari diri Sendiri

Kita tau bahwa kita punya kehendak penuh atas diri sendiri. Orang lain bisa saja mengatur kita, akan tetapi kehendak pastilah keputusan kita: apakah akan menuruti perintah atau melawannya. Begitupun orang lain: punya kehendak penuh atas dirinya sendiri.

Untuk itu yang harus dilakukan pertama  kali ialah menyadari bahwa satu-satunya hal yang bisa diatur sepenuhnya ialah diri sendiri. Sehingganya dari kesadaran ini, lantas kita akan fokus mengatur pribadi sendiri agar minimal tidak merugikan orang lain. Sukur-sukur bisa bermanfaat untuk banyak orang di sekitar.

Namun, pada kenyataannya tidak sesimpel itu. Kita perlu menghadapi hambatan-hambatan yang ada di depan kita. Salah satu hambatannya ialah media sosial.

Media Sosial -

Sebagai sarana komunikasi sosial, memberi manfaat yang cukup besar di bidang ekonomi, politik, budaya, bahasa, dsb. Contohnya saja Facebook. Facebook dengan fitur olshopnya bisa menghubungkan pihak pembeli dan juga penjual. Sehingga kebutuhan penjual dan pembeli dapat lebih mudah terpenuhi.

Manfaat lainnya ialah sosial media dapat menghantarkan informasi dengan sangat-sangat cepat. Saking cepatnya, waktu pengirimannya bahkan bisa sampai sepersepuluh detik dengan catatan kecepatan internetnya teramat kencang. Dengan adanya ini, penerima dan pengirim informasi akhirnya diuntungkan, sebab tak memerlukan waktu yang lama. Sebenarnya contoh konkret dari manfaat medsos banyak sekali. Tapi, saya pikir dua contoh tersebut sudahlah cukup.

***

Dibalik manfaat yang banyak, media sosial ternyata memiliki sisi negatif yang perlu untuk diketahui.

Sisi negatif media sosial

Sosial media dengan berbagai fitur ajaibnya, bisa menyulap satu manusia menjadi manusia lain. Bayangkan, hampir semua pengguna sosial media, kini berani memposting apapun tentang dirinya. Mulai dari pakaian, aksesoris, makanan, rambut, gaya hidup, masalah, hingga solusinya.

Semua ingin tampak di permukaan. Dan seperti dunia nyata, media sosial pun memiliki seleksi alam juga: yang tidak disukai oleh banyak orang akhirnya mundur, kemudian perlahan-lahan hilang dari media sosial. Ini wajar dan tentu alami.

Pengguna sosial media di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil riset tahun 2019 oleh Wearesosial Hootsuite, tembus di angka 150 juta atau 56% dari total populasi. Bila dibandingkan survei sebelumnya, jumlah pengguna medsos naik 20%. Ini menunjukkan antusias warga Indonesia dalam penggunaan sosial media terhitung tinggi.¹

Umur pengguna medsos pun beragam, tapi yang dominan ialah anak-anak muda. Sebab yang menguasai teknologi memang kebanyakan anak muda, bukan?

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa medsos bisa mengubah manusia menjadi manusia lain. Dengan kata lain, medsos berpotensi menghambat kita dari menjadi diri sendiri.

Saya tak yakin, pengguna aktif medsos, aktif juga di dunia nyata. Ya, mungkin hanya sebagian saja. Selain itu, di dunia nyata, mereka hanyalah cerita. Dan ini adalah fakta.

Betapa banyak manusia yang tidak diakui di dunia nyata kemudian melarikan diri ke dunia maya; medsos. Ada juga yang punya masalah, lalu menjadikan medsos sebagai pelarian sementara. Hingga mereka nyaman di sosial media dan akhirnya candu menetap di sana.

Memang, di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dsb, media sosial bisa menjadi amat bermanfaat. Namun, di waktu yang sama, medsos bisa membunuh jiwa penggunanya. Ya! Secara psikologi medsos menjadi ancaman yang luar biasa. Sebab, peran medsos bukan hanya sebagai sosial networking saja, melainkan juga tempat pelarian ternikmat.

Perannya sangat mirip dengan minuman beralkohol, narkoba, seks, ganja, dsb. Saat kita mengakses media sosial secara terus menerus tanpa kesadaran tujuan, maka dopamin akan bekerja sesuai fungsinya. Memang, kita akan senang dan bahagia berkat sosial media, akan tetapi lama-kelamaan kebahagiaan itu akan luntur secara bertahap. Sehingganya, pengguna medsos akan menuntut kebahagiaan yang lebih. Bila tidak terpenuhi, maka setiap waktu biasanya akan merasa kesepian. Dalam beberapa kasus, ada juga yang berani bunuh diri akibat ini.

Pertanyaannya ialah, sadarkah kita bahwa media sosial dapat membunuh kesehatan psikis kita?

Polarisasi dan kebebasan Media Sosial

Di negeri yang katanya merdeka ini, kita diberi kebebasan untuk melakukan apapun sesuai aturan dan norma yang berlaku. Dengan kata lain, sama saja kita tidak bebas bukan? Haha. Karena masih ada aturan yang membatasi.

Begitupun pada media sosial, kita seakan punya kendali dan kebebasan menggunakan media sosial. Akan tetapi, yang disediakan medsos hanya beberapa pilihan saja.

Sebagai contoh, mari kita lihat Youtube. Di sana hanya ada dua aturan: kita menyukai atau tidak. Kita tak bisa memilih antara suka dan tidak suka alias biasa saja. Sebab YouTube tidak menyediakan itu.

Kebebasan di media sosial sebenarnya semu
Jangan berharap lebih ingin dijamu
Sebab kita hanyalah tamu
Semua tergantung dengan apa yang medsos mau
[•] Hasan Askari 10 Maret 2020

Media sosial hanya menyediakan kita beberapa pilihan saja. Jika tidak A, maka B, jika tidak B maka C, dst. Akan tetapi, secara umum, sejatinya kita hanya diberi 2 pilihan, yaitu: respon positif dan respon negatif.

Respon positif inilah yang membuat dopamin ikut serta di dalam medsos. Dengan pujian, komentar positif, dan like, maka dopamin semakin bekerja secara maksimal. Orang-orang ini akan terus membuka dirinya, hingga setelah semuanya terbuka, ia pun menyesal. 
Bahwa tidak semua hal harus diketahui orang lain.

Adapun respon negatif, bisa jadi mengkerdilkan hati pengguna. Yang direspon akan merasa sendiri, kesepian, tiada teman, dan yang pasti tidak merasa aman dan nyaman. Maka sebagian korbannya, akhirnya membuat akun baru dengan nama lain. Ia ingin melakukan apapun sebebas-bebasnya di sosial media tanpa ada yang tau siapakah dia. Orang-orang ini lantas menganggap dirinya aman. Padahal justru ia membahayakan dirinya. Membunuh dirinya sendiri dengan menjadi orang lain.

Medsos dan waktu yang dibuang

Ingin terlihat sempurna adalah fitrah yang manusiawi sekali. Akan tetapi, selalu ingin terlihat sempurna adalah penyiksaan diri sendiri.

Ketika hendak memposting sesuatu, baik itu tulisan, gambar, audio, hingga video, maka umumnya para pengguna medsos akan mengatur sedemikian rapi agar postingan tersebut terlihat atau terdengar sempurna. Untuk melakukan pengaturan atau mendesain itu, tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, bukan? Kadang bisa sampai satu jam, dua jam, atau minimalnya 10 menit. Mereka melakukan ini hanya untuk mendapat like yang semu-semu.

Oleh karena itu, sejatinya mereka membuang-buang waktu. Sebab like yang mereka terima bersifat sementara saja. Jika habis masa likenya, maka mereka akan memposting lagi dan lagi. Hingga jiwa sesungguhnya tak terasa semakin pergi.

Padahal waktu 10 menit itu amatlah penting selain digunakan untuk sekedar posting. Misalkan, mencari sampah di jalanan kemudian membuangnya di tempat yang semestinya. Lebih bermanfaat bukan?

Akan tetapi inilah realitanya. Para pengguna medsos terlalu asik dengan dunianya dan -

Lupa memilah mana yang relevan dengan hidupnya

Dahsyatnya medsos bisa membuat kita lupa tentang tujuan hidup yang sebenarnya. Anggap saja, dia yang bercita-cita menjadi dokter. Kemudian ia masuk dalam kubangan sosmed. Maka ia yang seharusnya bisa lebih cepat dan tepat menguasai ilmu kedokteran, malahan diperlambat dengan 10 menit yang terbuang berulang-ulang.

Fokuslah pada tujuan hidup kita, sebelum medsos merenggut jiwa kita perlahan demi perlahan.

Betapa susahnya menjadi diri sendiri

Tak bisa dipungkiri bahwa untuk menjadi diri sendiri tak semudah membalik telapak tangan. Disebabkan karena ada halangan yang menghambat. Media sosial adalah salah satunya. Dengan adanya media sosial, kita digiring untuk menjadi orang lain, membuka seluruh privasi, dan bereaksi bagai ilusi.

Sebagai langkah yang tepat, sebaiknya kita sadar bahwa media sosial hanyalah alat saja. Kita gunakan sekadarnya sesuai kebutuhan kita. Semua hal tidak harus diketahui orang lain. Begitupun sebaliknya, kita tidak harus mengetahui perkara orang lain.

Kita sebaiknya juga mengerti tentang siapa kita, apa tujuan kita, apa kebutuhan kita, dsb. Supaya media sosial tidak dengan gampang menarik kita. Memang ini tak mudah. Oleh karena itu, sahlah bila saya berkata: betapa susahnya menjadi diri sendiri di era digital ini.

Baca juga: krisis pemimpin

Sebagai penutup

Saya akan melakukan disclaimer dan motivazi saja. Di mana pada postingan ini, saya tidak mengatakan bahwa media sosial itu buruk, jahat, tidak berguna, serta harus dimusnahkan. Sosial media memiliki manfaat dan juga ketidakmanfaatan.

Kita sebagai pengguna, harus tau bahwa medsos memiliki efek yang sangat besar terhadap psikis kita. Sehingganya, berpikir sebelum bertindak adalah langkah yang perlu diutamakan. Berpikir apakah yang kita posting itu benar, mencegah kita dari hoax. Berpikir apakah yang kita posting itu baik, mencegah kita dari diskriminasi sosial media, misalnya bullying, dsb. Akan tetapi, selalu memikirkan apa yang kita posting, sampai-sampai memikirkannya di setiap saat, sama saja membuang-buang waktu.

Ada banyak hal penting yang bisa kita pikirkan di dunia ini. Diantaranya ialah memikirkan kesehatan pribadi, khususnya kesehatan mental.

Sumber terkait


[1] https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/02/08/berapa-pengguna-media-sosial-indonesia

Disqus Codes
  • Untuk menulis teks tebal , sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks miring, sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks bergaris bawah , sila gunakan
  • Untuk menulis teks bergaris tengah , sila gunakan
  • Untuk menulis kode HTML, silakan pakai atau
    or

    dan gunakan parse tool below to easy get the style.
Show Parser Box

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

Dapatkan Kabar Terbaru Melalui Email