Friday, February 28, 2020

Dunia seakan dua

Hasan Askari: Dunia seakan dua

Adakalanya ... engkau ingin¹ menutup mata. Membutakan diri dari segala tipuan warna, lalu melihat dengan suara.²
[1] Soekarno
[2] Hasan Askari

Basa-basi

SALAH satu hal yang masih bisa dikatakan misterius ialah dunia. Bagi kita yang menganggap Tuhan itu ada, maka dunia ini tak ubahnya seperti gasing, yang ketika diputar makin lama makin berhenti. Tuhan diibaratkan pemutar gasing dan dunia beserta isinya tak lain ialah gasing itu sendiri.

Dunia dalam hal ini memiliki cakupan yang sangat luas sekali. Sehingganya, pada kali ini kita tidak akan membahas dunia yang itu, melainkan tentang dunia yang relatif lebih kecil, yaitu pendidikan.

Kita mungkin pernah duduk di bangku sekolah, mulai dari tingkat terendah hingga tertinggi. Di sana, kita disuapi pelajaran yang mengasikkan. Bercanda ria bersama banyaknya teman. Diajari oleh guru-guru berpengalaman. Dilingkupi oleh tempat yang sangat nyaman. Diuji oleh sistem yang amat aman.

Sehingga kita pun menjadi pintar.

Saking pintarnya, kita lupa bahwa gasing pendidikan terus berputar. Penghuni gasing hanya pasrah lalu terlontar. Endingnya, semua orang pasang komentar.

Membahas dunia pendidikan diperlukan ketelitian yang amat tinggi. Sebab, jika salah, kita akan dikeroyok oleh guru bergelar tinggi. Maka dari itu, saya akan mencoba berhati-hati. Agar yang punya hati, terhindar dari salah mengerti.

Membedakan dua dunia

Menyadari sesuatu merupakan langkah awal melesat maju. Sebagaimana kita menyadari berbagai kesalahan, lalu mengoreksinya satu per satu.
Sedikit mirip dengan itu, mari kita raba dunia pendidikan dengan kacamata yang berbeda. Supaya tambah sadar, sekaligus langkah yang kita ambil sedikit banyak bisa berubah.

Entah makin baik atau sama saja.

Salah satu kesadaran yang kita terima sejak kecil ialah pendidikan, dalam hal ini sekolah, merupakan fasilitas utama yang tidak bisa kita tinggalkan. Setiap anak harus pergi ke sekolah, belajar sambil bermain lalu pulang dengan gembira. Kita pikir: hanya inilah satu-satunya cara. Sehingga, menutup mulut dianggap juga bentuk suara.

Tak banyak orang berpikir bahwa sekolah itu tidak penting, sebaliknya mayoritas orang menganggap bahwa sekolah itu teramat penting. Sampai-sampai ada yang berkata, "bila semua kota hancur, maka bangunan yang harus ditegakkan pertama kali ialah sekolah".

Saya pribadi tak bisa berkata bahwa sekolah itu tidak ada gunanya. Jika pun iya, maka saya pasti dicap sebagai pengkhianat yang nyata. Sebab saya yang sekarang, bisa ada karena masa lalu yang mencipta. Dan sekolah ... ikut serta di dalamnya.

Namun demikian, kita semua sudah mengetahui bahwa apa yang diajarkan di sekolah 150 derajat berbeda dengan dengan apa yang ada di lapangan.

Sebagai contoh, di sekolah kita diberitahu bahwa bumi ini bentuknya bulat – seperti globe loh. Akan tetapi, dalam keseharian, kita selalu menciptakan barang yang datar, seperti meja, kursi, dsb. Bahkan kita pun berjalan seolah bumi itu datar. Semua ini terlepas dari perdebatan antara bumi bulat dan oposisinya.
Hasan Askari: Dunia seakan dua 2

Contoh lain terjadi pada matematika. Lihat saja berapa banyak materi matematika yang kita dapat di sekolah dan berapa banyak yang sudah diaktualisasikan. Saya kira tak lebih dari 5% – ini persenan palsu, dibuat untuk menunjukkan saking sedikitnya saja.

Atau subyek lain yang lebih mungkin dipraktekkan, yakni bahasa. Coba diingat-ingat, berapa tahun sudah belajar bahasa. Baik bahasa daerah, nasional, hingga internasional. Pertanyaannya, apakah kita sudah menguasainya?

Atau ini, setelah kita belajar bertahun-tahun lamanya, sudah bisakah maju di depan 100 hingga 1000 orang hanya untuk berbicara?
Ya, hanya berbicara.

Kita dididik untuk melupakan diri sendiri.

The point i want to give here is: 
The world have any section. And education is one of them

Sebagai penutup

Kita mengerti bahwa sekolah memiliki keunggulan dan kegunaannya. Tapi kita harus tau pula bahwa satu-satunya hal yang bisa dijadikan patokan bukanlah sekolah, melainkan diri kita sendiri.

Dengan kata lain, karena kita tau bahwa ada jarak antara dunia pendidikan dan non-pendidikan (masyarakat, alam, dsb), maka seharusnya kita tidak terlalu menggantungkan diri pada pendidikan dan segala lika-likunya. Begitupun dunia non pendidikan, kita ambil secukupnya saja.
Orang lain boleh mengandalkan orang lain, tapi kita harus mengandalkan diri sendiri.

Disqus Codes
  • Untuk menulis teks tebal , sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks miring, sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks bergaris bawah , sila gunakan
  • Untuk menulis teks bergaris tengah , sila gunakan
  • Untuk menulis kode HTML, silakan pakai atau
    or

    dan gunakan parse tool below to easy get the style.
Show Parser Box

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

Dapatkan Kabar Terbaru Melalui Email