Wednesday, February 26, 2020

Deplagiarism atau Decreativism


Hasan Askari: Deplagiarism atau Decreativism

"Tak perlu meminjam mata orang lain untuk melihat segala permasalahan dunia¹. Kita memiliki mata sendiri namun enggan menggunakannya²."
[1] Muhammad Iqbal
[2] Hasan Askari

Basa-basi

JUJUR saya tidak mengerti mengapa dunia menjadi lucu di mata ini. Saya lihat ada berbagai nomena yang entah sengaja atau tidak, diubah menjadi fenomena untuk menguntungkan berbagai pihak. Ada banyak sekali contoh yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Sehingga saya akan mengambil beberapanya saja yang saya anggap ada hubungannya dengan topik postingan ini. Kemudian saya kaitkan satu persatu sesuai apa yang saya ketahui dan inginkan.

Sebelum itu, mari kita ulas sejenak mengenai istilah di dalam judul.

Deplagiarism

Plagiat secara umum bisa kita artikan sebagai pengambilan karangan milik orang lain kemudian mengklaimnya sebagai milik sendiri. Plagiat termasuk tindakan kriminal. Sebab dengan plagiat, ada pihak-pihak yang dirugikan. Oleh karena itu, di Indonesia sendiri dibentuklah peraturan perundang-undangan khusus mengenai plagiat.

Plagiat bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris akan menjadi plagiarism. Sengaja saya menggunakan bahasa Inggris dalam judul ini supaya membacanya terkesan sedikit lebih keren.

Suatu diskriminasi bahasa apabila yang bisa membuat istilah hanya orang-orang bergelar tinggi. Sebab untuk mendapatkan gelar perlu biaya yang tidak semua orang bisa menjangkaunya. Kapitalisme yang begitu kuat dalam dunia pendidikan pun tak jarang dijadikan ajang untuk dipamerkan. Hemat kata, saya hanya ingin mengatakan bahwa setiap orang berhak untuk mengarang apapun.

Dalam hal ini, saya ingin mengarang istilah Deplagiarism dengan mengartikannya sebagai: usaha mencegah atau mengatasi tindakan plagiat. Sehingga, semua kata deplagiarism yang ada pada artikel ini mengacu pada pengertian tersebut.

Decreativism

Begitupula Decreativisme. Istilah tersebut saya artikan sebagai:
Usaha menonaktifkan kreatifitas seseorang atau suatu bangsa.

Why i write it?

Apabila Anda menanyakan mengapa saya mengangkat topik yang kurang berguna ini, maka sebenarnya saya bisa menyajikan 1001 alasan untuk dihadapkan kepada Anda. Namun, apalah gunanya semua itu. Malahan sebaliknya, banyak alasan akan menjadikan tulisan ini tambah tak berguna.
 
However, i can't hide that i have a reason about why i write it. I just want my writing skill growth naturally. Okay ....

Discussion

Kita semua mungkin pernah mengenyam pendidikan formal. Baik itu  Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), atau bahkan Kuliah dan lainnya. Apa yang diajarkan di sekolah seolah menjadi hal sakral yang tidak bisa kita tinggalkan. Begitu pun tentang sistem budaya dan ekonomi yang berkembang di dalamnya.

Dalam dunia pendidikan, ada arus yang harus diikuti oleh pelajar maupun pengajar. Bila melawan, sistem pun siap menghajar. Contoh riil yang ada kaitannya dengan topik ini ialah budaya contek-menyontek di kalangan pelajar. Biasanya kejadian ini terjadi saat ujian tulis sedang berlangsung. Di mana para murid memanfaatkan kelengahan guru untuk mencontek. Bila ketahuan, maka si murid akan dihukum oleh sistem melalui kaki tangannya yaitu guru.

Saya tak mau menyalahkan murid yang karena kreatifitasnya dapat menyontek. Atau pun guru dan sistem yang berusaha mengatasi tindakan plagiat. Karena keduanya ambigu sekali untuk dibela salah satunya. Maka dari itu, saya akan melanjutkan memberikan contoh yang kedua.

Bagi Anda yang pernah menyicipi bangku perkuliahan dan bergelar Maha dalam kata siswanya, tentu tak asing dengan istilah makalah. Pada umumnya, dosen mengharuskan anak ajarnya untuk membuat makalah dengan sumber yang valid. Bahkan isu-isunya, website sebesar apapun tidak bisa menjadi sumber rujukan, sebab ada disclaimer di dalamnya.

Yang menjadi titik pembahasan dalam contoh kedua ini ialah:
Dosen mengharuskan ada sumber rujukan di dalam makalah.
Berjalan satu-dua minggu, akhirnya mahasiswa merampungkan tugas makalahnya. Di setiap cover terpampang gagah nama dan NPM (Nomor Pokok Mahasiswa) mereka. Sebagiannya bangga telah menyalin sebegitu banyak tulisan dari berbagai buku terkenal lalu menganggap makalah tersebut sebagai hasil karyanya. Ini bukan ilegal dan mereka pun berhak atas ini.

Lagi-lagi kita dihadapkan dengan kelucuan serupa. Di mana dosen melakukan decreativism dan mahasiswa dilegalkan tindakan hampir plagiatnya dengan dibolehkannya merujuk sumber tertentu.

Baik, mungkin ada ranah baik dalam pengharusan mencantumkan sumber. Apakah itu? Berikut ini hipotesanya.

# Kebenaran

Dosen mungkin menginginkan kebenaran ada dalam makalah. Ia tak ingin ada hoax masuk ke dalamnya, sehingga kata-kata yang boleh masuk hanyalah kalimat para pakar yang sudah melakukan uji kebenaran.

Lantas pertanyaannya ialah, apakah seorang mahasiswa belum dianggap bisa untuk menguji sebuah kebenaran?
Bagaimana jika mahasiswa menemukan gagasan baru kemudian ia uji sendiri lalu hasilnya ternyata benar?
What's the problem?
Saya hanya ingin berkata bahwa mahasiswa menjadi korban decreativism. Mereka bahkan disuruh menyontek tulisan sang pakar dengan pelegalannya menggunakan sumber-sumber valid.

Saya tidak ingin menuduh bahwa sistem ini dibuat agar buku-buku pendahulu bisa laku, sebab tuduhan ini sudah pasti tidak etis. Siapa saya bisa menuduh mereka? Haha.

Salah satu hal yang tak kalah lucu di dunia perkuliahan ialah obyektifitas. Anda yang pernah kuliah, tentu sering mendengar kata tersebut. "Kita harus berpikir objektif," adalah doktrin untuk melegalkan contoh kedua.

Anda bayangkan bila seribu dosen berkata demikian kepada mahasiswanya. Dan setiap dosen memiliki 10 mahasiswa. Maka sudah 10.000 orang yang berpikir seperti itu.

Kreatifitas mahasiswa dibunuh secara perlahan dengan diharuskannya menyadur sumber-sumber terpercaya. Siapa di atas Apa adalah keniscayaan yang ada. Sehingga objektifitas hanya nada dalam suara.

Padahal, petuah lama pernah berkata:
Lihatlah Apa yang dibicarakan, bukan Siapa yang berbicara


Sebagai penutup

Saya ucapkan terima kasih kepada siapapun yang telah membaca tulisan kurang berguna ini.

Ini hanyalah sebuah tulisan
Membacanya pun tak perlu memakai lisan
Padamkan hati jua perasaan
Sebab tulisan ialah pesan
( Hasan Askari, 25 Februari 2020 )


Disqus Codes
  • Untuk menulis teks tebal , sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks miring, sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks bergaris bawah , sila gunakan
  • Untuk menulis teks bergaris tengah , sila gunakan
  • Untuk menulis kode HTML, silakan pakai atau
    or

    dan gunakan parse tool below to easy get the style.
Show Parser Box

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

Dapatkan Kabar Terbaru Melalui Email