Saturday, December 28, 2019

Saya bangga menjadi orang yang malas

Hasan Askari: Saya bangga menjadi orang yang malas

Akhir-akhir ini saya baru menyadari bahwa saya termasuk orang yang malas. Setelah belasan tahun saya hidup, baru kali ini saya mengetahui hal ini. Sungguh miris, tapi inilah kenyataannya. 

Bila kita ingin menguji kebohongan, tentulah kita perlu alat nan canggih. Namun, untuk menguji kemalasan, alat-alat canggih terasa sangat tidak berguna, sebab cukup dengan hal sederhana saja, kita dapat membuktikannya. 

Cara pertama untuk membuktikannya ialah dengan mengunjungi kamar pribadi si empunya. Dengan cara ini, kita dapat dengan sangat mudah mencirikannya. Apabila tatanan kamar terlihat rapi dan sesuai pada tempatnya, maka pemilik kamar bukanlah orang pemalas. Sebaliknya, apabila isi kamar seperti kapal pecah, amburadul, maka sudah pasti ia tergolong orang yang malas. Jika ia tak punya kamar pribadi, berarti tempat pribadinya, bisa kos-kosan, dsb. Pokoknya yang ia punya kuasa penuh atas tempat tersebut, juga jarang dikunjungi oleh orang lain. 

Namun, mengunjungi kamar pribadi tidak semudah yang kita bayangkan bukan? Kita harus menjadi orang yang dipercaya dulu, barulah boleh mengintip isi kamar orang yang dimaksud. Atau berubah profesi sejenak untuk menjadi tukang semprot nyamuk, alih-alih supaya akses ke kamar dapat diraih. Atau juga berkunjung ke rumah yang mau dilihat kamarnya, sebagai seorang tamu. Ya, dengan syarat rumah kita jauh dan hendak menginap. Ini pun ... belum tentu berhasil apabila orang yang dikunjungi punya kamar khusus untuk tamu dan sudah disetel rapi. Walhasil, kamar seseorang mencerminkan kemalasannya. 

Kedua, kita dapat mengetahuinya dengan memberikan tugas yang harus dilakukan secara rutin serta tanpa bayaran juga tanpa hukuman. Orang-orang yang kerja di kantor, saya yakin mereka itu, sebagiannya, malas. Tapi karena ada bayaran yang dijanjikan, maka mereka rajin melakukannya. Lain halnya jika kita ingin menguji kemalasan, kita harus menghilangkan bayaran dan hukuman. Sebab keduanya akan memberikan dorongan atau tekanan. Tugas kecil yang bisa kita berikan ialah membersihkan tempat tidur, mencuci piring sehabis makan, dsb. Ingat ya, tanpa bayaran serta hukuman. 

Model pengujian ini dilakukan agar kita tau, apakah ada dorongan dalam diri seseorang. Umumnya, orang-orang yang rajin mempunyai banyak motivasi yang muncul dari dalam dirinya. Sedangkan orang pemalas itu sangat minim motivasi yang muncul dari dalam dirinya. Orang pemalas butuh banyak motivasi dari luar dirinya. Sehingga ia malas bergerak kecuali ditekan oleh pihak yang lain. 

Tugas kecil tersebut bisa kita berikan selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan. Apabila di pertengahan jalan, ia menghentikan diri dari pekerjaan itu, sudah pasti ia termasuk orang yang malas. Kecuali jika dari awal ia sudah menolak mentah-mentah tugas tersebut. 

Cara kedua ini tidak melulu digunakan untuk menguji kemalasan orang lain. Bisa juga kita gunakan untuk menguji diri sendiri. Buat saja jadwal sesuai keinginan kita untuk dikerjakan selama berbulan-bulan, lalu jalani. 

Menguji diri adalah ancang-ancang untuk jauh berlari

Itulah, dua cara termudah untuk mengukur kemalasan seseorang. Mari uji kemalasanmu dengan dua cara tersebut. :v

***

Walaupun tergolong orang yang malas, saya tetap tidak merasa minder atau sedih lalu berharap menjadi orang yang rajin. Sebab, kita semua tau sebabnya. Menjadi orang yang malas itu enaknya luar binasa. Seperti tidak ada beban dalam hidup, tak ada tali yang mengikat, tak ada halangan yang menyekat. 

Saya juga bangga kok menjadi orang yang malas, sebab menurut para ahli, setelah diteliti ternyata salah satu ciri orang jenius ialah pemalas. Ini menunjukkan bahwa saya punya potensi menjadi jenius. Cukup mengumpulkan ciri lainnya agar gelar tersebut dapat melekat dalam diri saya. 

Hal lain yang dapat membuat saya bangga ialah karena dengan saya menjadi malas, maka orang-orang di sekitar akan membenci dan musuhi serta memaki. Imbasnya, perlahan-lahan mental saya akan terbentuk sehingga kemudian hari akan tahan banting. 

Keuntungan lainnya akan kita dapatkan apabila kita benar-benar menjadi seorang yang malas. Tidak bisa diceritakan, hanya bisa dirasakan. So, jangan ragu menjadi orang yang malas. 

Rajin adalah pelarian orang-orang yang ingin terkekang

Disqus Codes
  • Untuk menulis teks tebal , sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks miring, sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks bergaris bawah , sila gunakan
  • Untuk menulis teks bergaris tengah , sila gunakan
  • Untuk menulis kode HTML, silakan pakai atau
    or

    dan gunakan parse tool below to easy get the style.
Show Parser Box

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

Dapatkan Kabar Terbaru Melalui Email