Tuesday, December 17, 2019

Kebahagiaan yang dipaksakan

Hasan Askari: Kebahagiaan yang dipaksakan

Dalam hidup, kita sering dihadapkan dengan problematika yang beragam. Baik problem yang berasal dari diri sendiri maupun dari orang lain. Kita sebagai manusia tentunya akan berpikir terus menerus agar masalah yang datang dapat segera diatasi. Sehingga beban pikiran dapat berkurang dan waktu bahagia bisa kita raih. Setidaknya kita pernah bahagia, bukan? Sungguh terlalu jika seumur hidup kita tidak pernah merasakan bahagia. 

Kebahagiaan bagi sebagian besar orang yang mengaku bahagia, didefinisikan sebagai gelombang rasa yang menggelora di dalam jiwa. Bentuknya tidak ada, rasanya luar biasa, penyebabnya apapun bisa. Kita mungkin pernah menemui seseorang yang, maaf, terlihat gila karena ia tiba-tiba tertawa. Atau melihat mereka yang dianggap masyarakat sebagai manusia gila. Sejatinya mereka terlampau bahagia untuk hidup bersama manusia yang cukup bahagia seperti kita. Bagaimana tidak, ketika kita sibuk memikirkan masalah kita masing-masing, mereka malah sibuk dengan dunianya sendiri; menciptakan dunia baru dalam dunia yang lama, tanpa masalah, dan itulah solusinya. Orang-orang kuno seperti kita akan sulit bergabung dengan mereka. Mereka sudah jauh meninggalkan dimensi kita, sehingga yang seharusnya dianggap normal dan maju adalah mereka. 

Secara fisik, tubuh mereka memang sulit dikendalikan. Tak lain dan tak bukan ialah karena jiwanya terlalu hidup untuk singgah di tubuh yang mati. Bukankah demikian bahwa tubuh manusia sejatinya tak berguna jika tanpa jiwa – sebagian orang menyebutnya ruh. Dengan kata lain tubuh manusia memang benar mati. Untuk itu, kita dapat menarik poin penting bahwa jiwa dan raga adalah sesuatu yang berbeda. Hah, kesimpulan yang tidak reasonable!

Baiklah, kita bisa mengambil contoh selain mereka untuk membuktikan bahwa jiwa dan raga adalah sesuatu yang berbeda, yakni pengalaman kita masing-masing. Semua orang termasuk kita, pasti pernah mengalami pemfokusan sebuah objek. Di mana kita melihat suatu objek lalu tanpa sadar tak menghiraukan objek-objek lain di sekitarnya yang notabene dapat dijangkau pula oleh mata saat itu. Ini menandakan bahwa fisik kita dapat tak berfungsi pada saat-saat tertentu. Saat-saat yang dimaksud ialah perginya jiwa, entah kemana, dalam waktu sesaat. 

Kasus lain bisa berkata lain, seperti halnya orang tertidur. Apabila kita memperhatikan orang tidur, kita akan mendapati bahwa beberapa bagian tubuh mereka tidak bekerja. Jikalau memang bekerja, anggaplah telinga, maka apa yang kita bicarakan tak akan sampai ke otak mereka. Jikalau sampai, pastilah mereka tidak akan sadar. Sebab mereka sedang tidur. Useless! 

Okelah, kita tinggalkan saja teori jiwa dan fisiknya. Mari kita kembali ke topik kebahagiaan. Kita tau, orang-orang sukses (yah, ini pun relatif tergantung parameter kesuksesan masing-masing orang), kita ganti saja menjadi orang kaya – semua orang memang ingin kaya dan banyak uang. Realistis! Orang kaya cenderung berpotensi lebih bahagia daripada orang yang belum kaya. Ini karena adanya faktor/alat pendukung yang melekat pada orang-orang kaya.

Uang misalnya, dengan uang kita bisa membeli apapun kecuali beberapa barang seperti harga diri dan cinta NKRI. Kita tak bisa membeli kedua hal tersebut dan sejenisnya hanya dengan uang semata. Namun, selain itu, apapun bisa dibeli; kendaraan, tempat tinggal, makanan, minuman, manusia, sewa organ manusia: ex. sensor. Semua itu terlihat murah di hadapan uang. Sehingga dengan kondisi seperti ini, kita tak bisa menyangkal bahwa uang bukanlah faktor penentu kebahagiaan. Kaum penyangkal yang belum kaya biasanya berkata, "kebahagiaan itu adanya di hati, tidak ditentukan oleh materi". Bohong, tak berguna, pernyataan asumtif dan hanya untuk pembenaran belaka. 

Pernyataan kaum penyangkal tersebut mengingatkan kita bahwa manusia pada banyak kasus menggunakan pembenaran untuk mendukung keinginannya, hasratnya, kelakuannya dsb. Tak perlu dijelaskan panjang lebar, kita semua sudah mengetahui dan mengalaminya. 

Selain uang, orang kaya cenderung berpotensi memiliki relasi yang lebih luas. Relasi inilah yang menjadikan mereka sering bertemu banyak orang. Sehingganya dengan pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan akan membuahkan tawa canda berujung kebahagiaan. 

Namun demikian, orang kaya tidak bahagia setiap saat. Adakalanya mereka merasa tidak bahagia lantaran kebosanannya berdekatan dengan uang. Ini memang jarang terjadi kecuali untuk mereka yang sudah sangat sering bahagia dan senang karena uang. Pada titik tertentu, semua orang akan merasakan bosan. Orang kaya, saking sering ketemu dengan uang, suatu saat ia akan bosan, mungkin. Hanya kemungkinan saja, sebab ini hanya teori yang dalam praktek bisa jadi berbalik 180 derajat; semakin betah dengan uang. 

Sekarang kita bahas kebahagiaan yang ada dalam masyarakat belum kaya. Mereka cenderung mempersepsikan penderitaan sebagai anugerah yang bisa dinikmati. Entah faktor apa yang melatar belakangi hal ini, tapi yang pasti model persepsi menjadi efisien untuk mengatasi sebagian masalah, termasuk kurangnya kebahagiaan ini. Orang yang belum kaya lebih berpotensi untuk menukar dirinya dengan satu-dua lembar uang. Menjual harga dirinya untuk menikmati kebahagiaan miliknya kelak. 

Tak aneh lagi bagi kita melihat uang mempekerjakan manusia. Sebagian orang rela pergi pagi pulang malam bahkan belum sempat melihat anggunnya sinar mentari, demi mendapatkan uang impian mereka. Sebagian lainnya rela banting tulang untuk mencari uang pula. Pada tahap tertentu, sebagian orang lainnya, mungkin karena kreatifitas dan kecerdasannya mampu mempercepat mendapat uang dengan menjadi tikus berdasi – itu istilah yang orang sematkan. Aneh, tapi nyata. 

Manusia tak ubahnya seperti hewan, dalam sifat dan sikap – tak termasuk fisik, walaupun Darwin dengan gagahnya menciptakan teori evolusi manusia berasal dari monyet. Kita mungkin malas mengkaji teori Darwin ini. Tak menutup kemungkinan, tujuannya menyuguhkan teori tersebut ialah agar masyarakat dunia sadar bahwa manusia punya sifat serupa dengan hewan; rakus, sulit dikendalikan, inginnya makan dan makan. 

Akan tetapi dunia mendiskriminasinya dengan bertanya balik, "jika monyet bisa jadi manusia, mengapa monyet di kebun binatang masih berwujud monyet?". Sanggahan yang provokatif dan lagi-lagi ... useless! Agaknya anak-anak dunia jarang diajarkan tentang mempelajari pesan tersirat dalam pesan tersurat. Pesan yang bisa kita lihat melalui sisi yang lain. Bukankah dunia tidak persegi atau persegi panjang, melainkan kubus dan balok.

Dengan sifat dasar itu, kita terkadang terlihat seperti hewan. Juga dengan hal itu pula, kita terkadang terlihat seperti manusia. Andai saja semua itu bisa kita buang selamanya, alangkah bahagianya kita. Kita mungkin sulit membayangkan bentuk kebahagiaan apa yang akan kita raih tatkala hewan tak hidup dalam jiwa kita. Pasti konflik tidak akan terjadi, pasti kerusuhan tak akan terwujud dan mustahillah kita akan berpikir. Padahal berpikir adalah usaha mengubah konflik menjadi kebahagiaan – itu kata orang seperti kita. : )

Hanya satu kalimat tentang kebahagiaan yang cocok untuk kita yaitu kebahagiaan yang dipaksakan. 

# Kesimpulan

Bahagia itu memiliki sebab-sebabnya, bisa dari luar diri kita atau dari dalam diri kita. Tergantung darimana kita memilihnya. 


Disqus Codes
  • Untuk menulis teks tebal , sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks miring, sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks bergaris bawah , sila gunakan
  • Untuk menulis teks bergaris tengah , sila gunakan
  • Untuk menulis kode HTML, silakan pakai atau
    or

    dan gunakan parse tool below to easy get the style.
Show Parser Box

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

Dapatkan Kabar Terbaru Melalui Email