Tuesday, November 26, 2019

Topeng Puisi

Hasan Askari: Topeng Puisi

Basa-basi

Di hari yang cerah ini, izinkan saya untuk berbagi kumpulan puisi yang pada judul postingan ini sengaja diberi nama Topeng Puisi. Walaupun dalam album ini, bukan puisi berjudul Topeng yang merupakan puisi favorit saya.

Saya hanya ingin mengungkap diri sendiri yang pada dasarnya memang suka bergonta-ganti topeng. Tak lain agar keuntungan berpihak kepada saya. Saya punya banyak sekali topeng dan secara rapi saya susun sedemikian rupa agar ketika tiba situasi tertentu, saya bisa dengan cepat menggunakannya.

Saya bisa berbohong saat kalian memandang saya jujur. Saya dapat jujur di saat kalian menginginkan saya berbohong. Mudah bagi saya tersenyum, walaupun di depan saya ada darah dan luka. Tak jarang saya diam tuk hindari segala kesunyian. Dan masih banyak lagi.

Dalam album ini, terdapat tujuh buah puisi terunyu yang pernah saya miliki. Puisi yang paling saya suka di deretan puisi ini ialah puisi berjudul bisik. Sebab dalam proses pembuatannya, saya benar-benar membayangkan keadaan yang amat mencekam di saat seorang anak kecil sembunyi dibalik reruntuhan bangunan. Ia sembunyi dari tentara yang telah membunuh teman-teman sepermainannya, juga keluarganya.

Serbuk Mesiu berhamburan di mana-mana. Suara bising pun tak cukup senyap hanya dengan menutup kedua telinga. Ketakutan menghantuinya, terlebih di hari itu juga ia melihat orang yang melahirkannya ditanami beberapa peluru.

Hingga tiba malam, hingga tiba keesokan harinya, akhirnya ia memberanikan diri di tengah keadaan yang ironi. Bagaimana tidak, di saat ia berharap ada bantuan yang datang, malah ia disambut oleh lautan darah. Di sana semuanya terbaring kecuali ia yang satu-satunya berdiri. Tak lama kemudian, beberapa tentara pencipta darah datang dan melihatnya. Apa boleh buat, ia hanya sanggup berdiri lalu memandang tangannya yang lima jari.

Itu lah kurang lebih yang saya bayangkan, kalian tak perlu membayangkannya.

***
Baiklah, berikut tujuh puisi (Topeng Puisi) yang dimaksud:
Hasan Askari, Lampung, 7 November 2019

Topeng

Hanya memakai topeng saja
Kau dikira manusia manja
Hanya berganti topeng saja
Kau dikata malas bekerja

Tak ada manusia tanpa topeng
Tiada topeng tidak terpakai
Merangkai topeng sudah biasa
Tanggalkan topeng pasti tak bisa

Topeng baik dan topeng jahat
Selamanya mereka tak rehat
Tak peduli sakit ataukah sehat
Yang penting mereka melekat
Hasan Askari, Lampung, 11 Mei 2019

Bisik

Saat serdadu datang menyerbu
Membuyarkan tanah, batu, dan debu
Melucuti pakaian ibu dan babu
Meluncurkan peluru hingga ke kalbu

Kusembunyi ... 
Sembunyiku menjauhi bunyi
Mendengar mereka ria bernyanyi
Suara nyaring iblis sebunyi

Kutetap sembunyi ...
Hingga senja diam menyoja
Hingga bulan jauh berjalan
Tiba surya beri cahaya

Sangkurku ... tak lagi mendengkur!
Ada bisik nan mulai mengusik
Kau kuat mental! kau kekar fisik!
Maka aku ... keluar menelisik

Semuanya serentak menatap
Melihatku diam menetap
Saksikan kain, merah, dan gertap
Aku pun bisu, hanya mengetap
Hasan Askari, Lampung, 7 Juli 2019

Indahnya Alam

Indahnya alam menembus semesta
Sekali melihat, mulut diam tidak berkata
Jangan salahkan aku jika kucinta
Alam nan elok milik pencipta

Tapi kau hilangkan keindahannya agar perut penuh terisi
Tapi kau hancurkan keasliannya sebab kau larut dalam ambisi
Tapi kau lari dan enggan tuk bersaksi
Tapi kau ... ah ... alasanmu begitu basi

Kami, hanyalah anak jalanan
Kumpulkan uang hasil jualan
Habiskan waktu berbulan-bulan
Melihat kau : banyak persoalan

Ada apa di dalam sana?
Ada alamkah dalam istana?
Bisakah sedikit kau bijaksana?
Melihat kami; sungguh merana
Punya kaki, tidak celana

Hei ...  apa yang kau lakukan ?
Sehingga kami belum makan
Hei ... apa yang kau kerjakan ?
Sehingga kami terabaikan

Berapa banyak janji kami nanti
Tapi satu pun tak kau taati
Berapa lama kami menunggu
Tapi selama ini kau seakan lugu

Tak sadarkah dirimu?
Bahwa rakyat belum kau jamu
Tak pintarkah dirimu?
Sehingga langkah harus kau putar

Sampai kapan ini terjadi?
Sampai kau puas tidak mengabdi?
Atau kau kenyang memakan padi?
Atau berhenti semua nadi?

Kemarilah kau kunasihati:
Berhati-hati!
Kami selalu mengamati
Hingga kau siap berbakti
Hingga kau benar-benar mati
Dan terkubur bersama tanah nan subur
Hasan Askari, Lampung, 1 Juni 2019

Jika Aku

Jika aku pulang ... 
Izinkan aku datang menumpang
Membawa tulang tertusuk pedang 
Menembus urat arah melintang

Jika aku hilang ...
Jadilah elang terbang melayang
Atau bintang terang benderang
Agar kau gampang aku kan pandang

Jika aku mati ...
Adakah cinta di hati?
Atau cinta akan terhenti
Tinggalkanku bersama melati

Jika aku jika
Maka engkau luka
Aku akan duka
Sirna tatap muka
Hasan Askari, Lampung, 15 September 2019

Malam Ini

Malam ini aku berdua bersama diri sendiri
Berbincang-bincang mengenai apa yang kami lakukan setiap hari
Sembari menunggu sinar mentari
Sembari memandang bulan sedang menari-nari

Ia bertanya kepadaku seolah aku telah mengerti
Ia tertawa bersamaku seolah kami kawan sejati
Ia menatap hitam mataku seolah waktu telah berhenti
Ia menangis di hadapanku seolah esok aku kan mati

Apakah ini sebuah tanda yang harus diamati
Ataukah jejak nan harus kuhapus dengan tajamnya belati
Tinggalkan semua lalu terbang bak merpati
Atau tebarkan harum seakan aku sang melati
Hasan Askari, Lampung, 26 November 2019

Masa Pintar

Mereka mulai membencimu satu per satu
Termasuk aku yang dikau adalah satu
Tak terpecah bak intan terlempar batu
Mereka pikir: kau bukan sesuatu

Masa bodo dengan pengawal
Masa pintar air mendidih
Tiada akhir tanpa awal
Tiada senang tanpa sedih

Engkau berdua: bersama aku sendiri
Engkau sendiri, tanpa aku nan lari
Kita bersama, saling bersentuhan jari
Kita berpisah, tak ada kasih sinari

Dua jalur menusuk-nusuk dihati
Menjauhkan raga juga miliknya hati
Harap melekat, walaupun nanti
Detik per detik nantikan aku nan mati
Hasan Askari, Lampung, 26 November 2019

Salahku

Engkau adalah makhluk nan buta
Menggali permata mengorbankan derita
Mencari cinta menggunakan dusta
Menggapai cita, tuk harta semata

Butamu lumpuhkan kaki
Membuatmu susah menapaki
Dan kau pasti kumaki
Mampus! Itulah rezeki

Kulihat kau mulai menangis
Meringis bagai pengemis
Terlunta bagai peminta
Dan linglung bagai pemulung

Enyahlah! walau kau lelah
Pergilah karena kusalah
Salahku dalam melihat
Benarmu berakal sehat

Sebagai penutup

Terima kasih sudah membaca. Semoga saja Anda terhibur dengan adanya puisi tersebut

Disqus Codes
  • Untuk menulis teks tebal , sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks miring, sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks bergaris bawah , sila gunakan
  • Untuk menulis teks bergaris tengah , sila gunakan
  • Untuk menulis kode HTML, silakan pakai atau
    or

    dan gunakan parse tool below to easy get the style.
Show Parser Box

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

Dapatkan Kabar Terbaru Melalui Email