Thursday, March 14, 2019

Puisi Pertama


Basa-basi

Ini merupakan kumpulan puisi pertama yang pernah saya buat. Saya beri judul puisi pertama karena postingan ini merupakan postingan pertama kali di blog ini yang mencakup kumpulan (album) puisi.

Dalam album ini, saya menyajikan tujuh puisi yang berjudul Asma, Estetika, Hujan, Koma, Pikun, Enyahlah, dan Air mata.

Puisi-puisi ini murni buatan saya sendiri dan terinspirasi dari pengalaman pribadi. Saya sangat berterima kasih kepada orang-orang literasi terdekat saya yang telah mensupport saya habis-habisan dan menarik saya ke dunia literasi yang cukup menghibur. Terkhusus para anggota Penulis Kece (PK) yang telah memberi kesempatan berharga itu.

Bagi saya, walaupun ini merupakan album puisi pertama, bukan berarti tidak berguna. Justru puisi-puisi ini merupakan penyemangat saya untuk terus menulis.
***
Itu dia basa-basinya, Sobat. Sekarang, mari simak puisi pertamanya!

Asma

Luapan rindu memecah sukma
Menghantar jiwa menuju asma
Ingin ku dekat berlama-lama
Jadikan ia sumber cinta utama

Aku tak khianat!
Sebab ia beri amanat
Aku kan selalu tepat!
Sebab janji telah terikat

Engkaulah janji itu
Membuat kita makin menyatu
Engkaulah amanat ini
Jadikanku makin menekuni

Menekuni untuk menjaga
Semua jiwa dan raga
Aku tidak akan bangga
Hingga kita masuk ke sorga
Hasan Askari, Lampung, 11 Mei 2019

Bisik

Saat serdadu datang menyerbu
Membuyarkan tanah, batu, dan debu
Melucuti pakaian ibu dan babu
Meluncurkan peluru hingga ke kalbu

Kusembunyi ... 
Sembunyiku menjauhi bunyi
Mendengar mereka ria bernyanyi
Suara nyaring iblis sebunyi

Kutetap sembunyi ...
Hingga senja diam menyoja
Hingga bulan jauh berjalan
Tiba surya beri cahaya

Sangkurku ... tak lagi mendengkur!
Ada bisik nan mulai mengusik
Kau kuat mental! kau kekar fisik!
Maka aku ... keluar menelisik

Semuanya serentak menatap
Melihatku diam menetap
Saksikan kain, merah, dan gertap
Aku pun bisu, hanya mengetap

Estetika

Puisiku begitu hina
Jangan kau guna!
Puisiku dapat dibaca
Jangan kau cerca!

Bacalah bila kau suka!
Anggaplah hanya jenaka!
Lepaskan jika terluka!
Tuk komen ... kusudah kubuka

Pakai logika dan pula etika
Karena inilah estetika
Abaikan komentar mereka!
Sebab mereka berdua muka
Atau aku kan jadi murka

Hujan

Bagiku ... hujan itu cantik
Ketika air mulai merintik
Dan jatuh detik per detik

Sejuknya musnahkan panas
Saat gurun telah mengganas
Dan mampu tumbuhkan tunas

Hujan ... Engkaukah itu?
Buatku diam membatu
Melihatmu indah begitu

Pelangi kadang pun datang
Bak tamu yang tidak diundang
Menyenangkan para peladang

Koma

Agh ... otakku buntu
Habis termakan kutu
Hilang tertelan waktu

Ku berhenti tuk memburu
Sebab otakku mulai membiru Menimbulkan banyak keliru

Kakiku sakit karena otak
Mengilu tak bisa menghentak
Jantung pun pelan berdetak
Kudiam tak bisa berontak

Sang waktu hilang percuma
Kupegang tangannya mama
Dokter pun tinggalkan nama
Putuskan namaku koma

Pikun

Gurun memunculkan fatamorgana
Bulan menampakkan gerhana
Pelangi membagikan warna-warna

Semuanya terjadi karena kehendaknya,
Kun fayakun
Tapi ... Terkadang manusia pikun
Pikun atas semua nikmat
Pikun atas semua amanat

Wajibnya ia lupakan
Haramnya ia kerjakan
Dan Insan ...

Aneh bin ajaib ...
Mengumbar aib dan ingkar pada yg ghaib

Enyahlah

Aku bukanlah Dilan yang pandai berkata-kata
Atau pun Majnun yang gila akan cinta
Terlebih Fir’aun yang duduk di atas tahta

Ku tak suka tahta apalagi tumpukan harta Yang membutakan mata
Melalaikan Ia: Sang Pencipta
Membuatku bertingkah seperti pendusta
Dan hidup terlunta-lunta

Enyahlah kalian harta dan tahta
Tinggalkan aku, aku hilang
Lupakan aku, aku lenyap

Air mata

Hari ini ...
Kututup semua buku
Buku tentang dirinya
Buku tentang dunia

Berpikir sejenak mengamati diri
Merenung sesaat menjelajah memori

Kurindu sepi ...
Sepi yang menyadarkan Sepi yang menghidupkan

Oh air mata ... 
Janganlah membeku
Turunlah ... turunlah ...
Aku menanti disini

Atau mungkin ...
Atau mungkin engkau enggan bersua
Enggan menyentuh, tangan pendosa

Air mata ...
Menetaplah

Sebagai penutup

Saya hanya bisa berharap bahwa perasaan yang saya alami juga hadir di hati pembaca. Makin semangat dan terus semangat. Semoga sobat semua bisa terhibur oleh puisi pertama ini. Semoga juga kita semua makin semangat dalam menghasilkan karya-karya.

Disqus Codes
  • Untuk menulis teks tebal , sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks miring, sila gunakan atau
  • Untuk menulis teks bergaris bawah , sila gunakan
  • Untuk menulis teks bergaris tengah , sila gunakan
  • Untuk menulis kode HTML, silakan pakai atau
    or

    dan gunakan parse tool below to easy get the style.
Show Parser Box

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

Dapatkan Kabar Terbaru Melalui Email